Minggu, 02 Mei 2010

Renungan Bersama

Perlu disadari bahwa setiap orang mempunyai karakter yang berbeda-beda, baik dalam cara berperilaku, maupun dalam mengungkapkan suatu pendapat. Namun yang perlu kita sadari, pendapat seseorang perlu kita hargai; jangan langsung dipotong atau menegasikan pendapat tersebut dengan cara-cara yang kurang pantas (keras, argumen pedang). Hal tersebut bisa mematikan argumen seseorang bahkan karakter individu tersebut, akibat dari cara memperlakukan individu tersebut saat berpendapat. Pendapat itu sah-sah saja dalam suatu kepanitiaan, namun harus tetap menjunjung nilai etika dan harus menerima keputusan bersama.

Tiada gading yang tak retak. Dalam suatu kepanitiaan pasti ada suatu permasalahan yang terjadi, baik dari internal maupun eksternal. Permaslahan yang dari internal ini kadang bisa berimbas kepada kegiatan maupun panitia/individu. Hal ini kadang menimbulkan ketidakharmonisan dalam kepanitiaan tersebut. Yang perlu kita sadari adalah bagaimana kita bisa menyikapi masalah tersebut? Jangan sekali-kali mencampuradukkan organisasi dengan kekelurgaan, dalam setiap menyelesaikan sesuatu. Karena tidak semuanya bisa diselesaikan dengan cara organisasi/kelembagaan saja, atau kekeluargaan saja, ataupun dengan keduanya.
Beberapa orang menganggap permaslahan tersebut terjadi karena miss informasi. Tetapi miss informasi ini jika kita pikir-pikir sebenarnya masih sangat umum. Miss komunikasi ini juga bisa disebabkan oleh suatu hal, salah satunya faktor perasaan. Perasaan kadang bisa membuat seseorang menjadi lebih sensitif, terutama saat seseorang sedang berkata atau berperilaku yang menurut pemikiran kita kurang wajar. Namun yang perlu lagi kita pikirkan, dalam suatu organisasi kemahasiswaan terdiri dari berbagai macam karakter individu, baik dari latar belakang budaya maupun agama. Coba kita renungkan bahwa “perbedaan itu indah” jika kita bisa menyadari itu. Bayangkan saja jika semuanya sama, akan seperti apa jadinya. Tapi dengan perbedaan tersebut, kita harus tahu batas-batas toleransi, tenggang rasa maupun etika.
****************************************************************************
Pasti kita sering mendengar pada saat masih di SD atau SMP bahwa budaya bangsa kita, Indonesia adalah Musyawarah dan Gotong-Royong. Tidak disadari bahwa budaya tersebut semakin hari semakin terkikis. Jangan sampai mencoba mengatasi suatu masalah dengan ego. Hal ini akan memicu diri kita untuk selalu sensitif (dalam hal negatif) dalam menyikapi sesuatu (pendapat, masalah, kritikan, dsb). Dalam kepengurusan kami yang hampir seperenambelas windu ini, kami mencoba dengan semaksimal mungkin mencoba untuk menjalankan kepengurusan ini semaksimal ini. Namun pasti ada dibenak teman-teman semua yang kurang puas atau bahkan tidak puas denan kepengurusan ini. Jalan panjang nan lebih terjal siap menunggu. Tapi ingat hal tersebut bukanlah hambatan, akan tetapi adalah sebuah tantangan yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan bermartabat.
Teman-teman semua, apa yang dikatakan dalam tulisan ini hanya pendapat dari beberapa orang. Tidak semua apa yang dikatakan ini benar menurut teman-teman. Jadi kita harus bisa bersikap, mana yang menurut nurani kita baik. Karena nurani tidak pernah bohong. Mari intropeksi diri bersama-sama demi kebaikan bersama. Marilah kita bersama-sama berbenah diri untuk kebaikan. Selalu menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Tidak ada yang bisa mengubah diri kita selain kita sendiri. Dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
*Q-jump*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar